Friday, December 6, 2013

10 Cara tepat mengatasi nyeri lutut



Lutut adalah bagian yang sendi yang sering terluka dan jika nyeri, rasa sakitnya benar-benar menyiksa. Lantas bagaimana cara mengatasinya? Simak cara tepat mengatasi nyeri lutut selengkapnya seperti yang dilansir dari Health Me Up (03/11) berikut ini.

  • Mengompres dengan es batu adalah langkah pertama meredakan nyeri pada lutut. Namun jangan lupa membungkus es batu dengan handuk dan tidak langsung terkena kulit untuk mengatasi nyeri yang Anda alami.

  • Jika Anda gemar berlari atau mendaki gunung, kurangi kebiasaan tersebut. Sebab aktivitas tertentu memang mudah membuat lutut terluka dan mengalami nyeri.

  • Periksa sepatu yang Anda pakai. Apakah hak, bahan, atau ukurannya sudah sesuai? Pasalnya alas kaki juga ikut berperan memicu nyeri pada lutut.

  • Kalau ada perbedaan panjang pada kaki, segera konsultasikan masalah tersebut pada dokter. Panjang kaki memang sebaiknya harus proporsional demi menghindari cedera maupun rasa nyeri.

  • Anda sebaiknya juga sering-sering melakukan olahraga dengan cara merenggangkan kedua kaki selebar-lebarnya. Aktivitas tersebut membuat otot kaki lebih fleksibel dan mengurangi risiko nyeri lutut.

  • Selain itu, otot pada bagian paha belakang juga perlu dilatih dengan olahraga tertentu. Konsultasikan dengan dokter mengenai olahraga yang tepat untuk menguatkan otot tersebut.

  • Ada juga makanan yang membuat lutut menjadi lebih kuat, seperti buah berry, jahe, alpukat, biji rami, ikan yang mengandung omega-3, dan kedelai.

  • Postur tubuh sebaiknya diperbaiki demi menghindari nyeri lutut. Misalnya ketika duduk, pastikan kaki tidak tertekuk atau menggantung. Posisikan tubuh pada kursi senyaman mungkin. Selain itu, jangan menyilangkan kaki ketika duduk dalam waktu yang lama.

  • Batasi konsumsi garam yang memicu penyimpanan air berlebih dan membengkak, akibatnya lutut bisa terasa nyeri.

  • Untuk sayuran, jangan malas mengonsumsi terung, paprika, tomat, kentang, dan juga vitamin C demi kesehatan lutut.


Itulah cara tepat mengatasi nyeri pada lutut. Lebih baik mencegah daripada mengobati masalah kesehatan tersebut bukan?

Jadi Pengusaha Jangan Takut Ambil Risiko!



Untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam berbisnis, Fakultas Teknologi Industri (FTI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengadakan Kewirausahaan Fair (KWU Fair). Acara bertajuk First Step to be Entrepreneur itu terdiri atas open talk dan pameran kewirausahaan.

Salah satu pembicara dalam sesi open talk, yakni Bustanul Arifin Noer mengungkap, setiap orang memiliki ketakutan ketika akan memulai sebuah usaha. Ketakutan tersebut, lanjutnya, tergantung pada tingginya pendidikan yang ditempuh.

Dia menjelaskan, keberanian seseorang membuka usaha rata-rata 90 persen ketika SD, menginjak SMP turun menjadi 60 persen, dan begitu seterusnya. Ketika kuliah, seseorang lebih takut membuka usaha. ''Yang membedakan dari seorang entrepreneur adalah mereka berani mengambil risiko dan proaktif,'' tegas Arifin, seperti dikutip dari ITS Online, Selasa (26/11/2013).

Arifin menyatakan, ciri-ciri seorang entrepreneur sejati harus berpikir strategis, mampu mempertahankan usahanya lebih dari tiga tahun dan mengembangkannya. ''Selain itu, seorang entrepreneur harus fokus pada tindakan dan menguasai pengetahuan mengenai produknya,'' paparnya.

Dosen Teknik Industri ITS itu menambahkan, ITS memiliki sebuah lembaga bernama Inkubator Bisnis yang bernaung di bawah LPPM. Inkubator Bisnis merupakan sebuah lembaga dalam institusi yang telah diakui secara nasional.

Inkubator Bisnis itu, katanya, dapat membantu segenap civitas academica yang terjun ke dunia wirausaha namun belum mandiri. ''Fungsinya untuk membantu mahasiswa maupun alumni ITS yang telah berani memulai usahanya namun dalam perjalanannya masih terseok-seok,'' terang Arifin.

Ketika disinggung mengenai Asia Pasific Economic Cooperation (APEC), Arifin mengaku tidak ada kendala berarti bagi entrepreneur. Akan lebih banyak orang asing yang masuk ke Indonesia dan jenis pekerjaan lebih beragam yang menjadi pembeda nantinya.

"Tantangannya, kita harus legowo untuk belajar. Belajar budaya mereka, belajar cara mereka berbisnis, dan pangsa pasarnya. Kita harus lebih siap untuk mengamati secara cermat peluang bisnisnya," tutupnya.

Friday, November 15, 2013

8 Perilaku yang Menandakan Anak Sedang Di-bully



Dalam kesehariannya, tak jarang anak-anak yang menjadi korban bullying teman-temannya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bullying bisa berdampak buruk pada perkembangan fisik dan mental anak-anak.

Tapi sayangnya, banyak anak yang takut memberi tahu orang tuanya bahwa ia di-bully. Nah, sebagai orang tua, tak ada salahnya jika Anda lebih jeli jika melihat keadaan anak yang tak biasanya. Dilansir Babble, Jumat (15/11/2013) berikut ini beberapa tanda bahwa si kecil tengah di-bully:

1. Menyembunyikan luka

Memar, benjolan, goresan, atau cedera yang disembunyikan oleh anak patut Anda perhatikan. Ingatkan pada anak bahwa tidak ada yang berhak menyakiti mereka dan doronglah agar mereka mau menceritakan apa masalah yang mereka alami.

2. Lusuh saat pulang sekolah

Penampilan anak yang tidak rapi dan cenderung 'kucel' bisa jadi tanda ia sedang di-bully teman-temannya. Selain itu, barang anak yang hilang tanpa alasan yang jelas juga bisa jadi indikasi mereka mengalami bullying.

3. Mengalami sakit fisik

Sakit kepala, sakit perut, atau pura-pura sakit agar ia tidak pergi ke sekolah bisa jadi indikasi adanya trauma secara emosional akibat dibully.

4. Jadi 'malas' sekolah

Jika anak sebelumnya selalu bersemangat ketika berangkat ke sekolah tapi tiba-tiba dia kehilangan minat di sekolah bahkan prestasinya menurun, Anda perlu menyelidiki apakah ia sedang mengalami bullying. Guru mungkin bisa jadi pintu gerbang di mana Anda mendapat informasi tentang keseharian anak di sekolah.

5. Berperilaku merusak diri

Merasa malu dan bingung sering membuat korban bullying sulit meminta bantuan. Jangan pernah abaikan gejala-gejala bullying misalnya anak ingin menyakiti dirinya, berbicara tentang bunuh diri, melarikan diri, atau melakukan perilaku berbahaya lainnya.

6. Harga diri rendah

Jangan pernah mengabaikan kecemasan mendadak, depresi, atau masalah emosional yang dialami anak. Cobalah berdialog dengannya hingga mereka merasa cukup aman untuk berbicara terbuka dan jujur tentang ketakutan mereka.

7. Suka menyendiri

Jika anak mulai mengisolasi diri dari teman dan keluarganya, cobalah cari tahu apakah ia terlibat perselisihan dengan temannya di sekolah atau justru ada teman yang menyerangnya. Jika mereka tak nyaman dengan interogasi langsung, maka mulai 'pancing' dia dengan pertanyan 'siapa yang menyenangkan di sekolah' atau 'dengan siapa kamu suka menghabiskan waktu di sekolah'.

8. Susah tidur

Jika anak mulai mengalami kesulitan tidur seperti insomnia, mimpi buruk, gelisah saat ingin tidur, maka cobalah mengidentifikasi apa penyebab emosional yang membuat ia merasa gelisah seperti itu.

Thursday, November 14, 2013

Jangan Main HP-Saat Interview



Kecanggihan teknologi informasi membuat kita seakan tidak bisa lepas dari telepon selular baik untuk membalas pesan singkat atau melihat update twitter. Parahnya, kebiasaan tersebut terbawa saat proses wawancara kerja.

Jika hal tersebut Anda lakukan, sudah pasti pewawancara akan kehilangan respek. Demikian disampaikan Human Resource (HR) PT Kideco Jakarta Ochlis ketika ditemui Okezone dalam Universitas Indonesia (UI) Career & Scholarship Expo XVI 2013.

"First impression atau kesan pertama itu penting. Makanya saat diwawancara Anda harus murah senyum, berpenampilan rapi, dan ber-attitude baik. Ada lho yang waktu interview sambil BBM-an atau SMS-an. Sebaiknya saat interview telepon genggam di-silent atau dimatikan," ujar Ochlis di Balairung UI, Depok, Jumat (13/9/2013).

Saat wawancara kerja, Ochlis mengingatkan agar para lulusan me-review materi yang dipelajari saat kuliah. Sebab, calon perusahaan ingin mengetahui pemahaman Anda terhadap bidang pekerjaan yang akan digeluti.

"Kuasai jurusan saat kuliah. Untuk fresh graduate yang kami kejar biasanya proses skripsi. Bagaimana dia mampu menjelaskan proses pembuatan, pemilihan topik, dan problem solving atas suatu kasus. Dari situ akan kelihatan. Untuk tingkatan experience, kami akan bertanya seputar pemecahan masalah berdasarkan pengalaman nyata," jelasnya.

Menurut Ochlis, tidak jaminan dengan gelar yang lebih tinggi membuat pengetahuan orang tersebut terhadap materi yang dipelajari lebih banyak. Hal ini disampaikan Ochlis berdasarkan pengalamannya ketika mewawancarai seorang calon karyawan lulusan S-2.

"Parah banget dulu ada. Saat saya mewawancarai orang S-2 posisi hukum. Dia lulusan dua universitas besar tapi ketika ditanya masalah Hukum, materi-materi dasar tidak paham sama sekali. Oleh karena itu, para calon karyawan harus update dengan informasi," ungkap Ochlis

Ini Bisa Picu Amarah Pramugari



PRAMUGARI juga manusia. Meski mereka selalu memasang senyuman manis saat melayani Anda di pesawat, bukan berarti Anda bisa memperlakukannya semena-mena.

Ada beberapa perilaku penumpang yang kerap membuat pramugari kesal. Jangan sampai Anda pernah melakukannya.

"Kuncinya adalah untuk tidak terlalu banyak meminta dan memaki-maki," kata Heather Poole, pramugari salah satu maskapai terbesar di Amerika Serikat, seperti dikutip dari News, Kamis (26/9/2013).

"Anda tidak bisa mengharapkan maskapai menyediakan makanan sesuai keinginan Anda kemudian marah-marah pada pramugari karena tidak mendapat apa yang Anda inginkan," sarannya.

Selain penumpang yang semena-mena, Heather juga seringkali berhadapan dengan penumpang yang bertingkah aneh karena berada dalam pengaruh alkohol.

"Saya pernah melihat penumpang yang mabuk dan meminta lebih banyak alkohol. Ia bilang tidak akan diam bila saya tidak menciumnya," cerita Heather.

"Ada pula penumpang yang hilang kontrol saat berada dalam pengaruh alkohol dan terlibat perkelahian dengan penumpang lainnya. Kami juga pernah bertemu seorang penumpang perempuan yang meminum setengah botol besar alkohol dalam penerbangan dari Amerika menuju Inggris, kemudian saat pesawat tiba ia harus digotong keluar pesawat," tuturnya

Sunday, November 10, 2013

Bersahabatlah dengan Pramugari!



PERJALANAN udara bisa membuat siapapun stres. Tidak hanya Anda sebagai penumpang, tapi juga kru pesawat. Karena itu, usahakan selalu bersikap baik kepada pramugari dan kru kabin lainnya.

Seorang pramugari maskapai besar Amerika Serikat membuka rahasia mengenai apa yang harus dilakukan seorang penumpang agar dapat bersahabat dengan pramugari selama penerbangan. Ternyata, sarannya mudah saja.

"Anda cukup bersikap baik. Kami pramugari banyak bertemu dengan penumpang yang tidak sopan dan kasar, sebaiknya Anda bukan salah satu di antara orang-orang seperti itu," kata Heather Poole, pramugari tersebut, seperti dikutip dari News, Kamis (26/9/2013).

"Karena itulah, kami memulai penerbangan dengan senyuman. Kami mengharapkan penumpang juga bisa memberikan hal yang sama," ujarnya.

Selain bersikap baik, kesopanan juga menjadi poin penting dalam penerbangan. "Mengatakan 'tolong' dan 'terima kasih' begitu berarti bagi kami. Sekarang, jarang sekali penumpang mengucapkan hal-hal sepele seperti itu," cerita Heather.

Siapa tahu, dengan bersikap baik Anda bisa mendapatkan upgrade kelas penerbangan dari kelas ekonomi menjadi kelas bisnis. “Masalah upgrade sebenarnya adalah urusan pegawai maskapai di bandara. Namun, ada kemungkinan kami juga bisa memberikannya di pesawat bila ada kursi yang kosong,” tukasnya.

Wednesday, November 6, 2013

Tidur Siang Penting untuk Anak-Anak PAUD, Ini Alasannya



Bagi anak usia tiga sampai lima tahun, ketika mulai masuk masa prasekolah, semacam pendidikan anak usia dini (PAUD), terkadang mereka kehilangan jam tidur siangnya. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa tidur siang sangat penting bagi anak usia PAUD, mengapa?

Menurut peneliti dari University of Massachusetts Amherst, berkurangnya waktu tidur siang bisa mengganggu kemampuan anak prasekolah dalam memproses dan mengingat informasi yang mereka pelajari di sekolah.

Para peneliti menguji kemampuan retensi memori 40 siswa prasekolah dengan memberi mereka permainan memori dengan waktu yang sama pada jam sekolah reguler. Anak di kelompok pertama tidur selama 77 menit setelahnya, sedangkan kelompok kedua tidak tidur.

Peneliti menguji daya ingat anak-anak di hari berikutnya. Mereka menemukan bahwa 75 persen anak yang tidur siang, memiliki kemampuan mengingat 10 persen lebih baik dibanding anak yang tidak tidur siang.

"Itu berarti ketika anak-anak kehilangan tidur siang, mereka tidak bisa memulihkan manfaat ini dengan tidur malam mereka. Tampaknya ada keuntungan tambahan saat mereka memiliki waktu tidur setelah jam belajar," tulis para peneliti.

Sementara itu, menurut Rebecca Spencer, asisten profesor psikologi di University of Massachusetts Amhers, hasil ini
bisa menjadi bukti ilmiah terkait manfaat dari tidur siang. Pasalnya, selama ini banyak pendidik atau orang tua yang bingung apakah mereka harus mengganti waktu tidur siang anak-anak dengan kegiatan belajar.

"Kami berharap hasil ini bisa dijadikan pertimbangan bagi pembuat kebijakan untuk menghasilkan keputusan tentang peluang tidur di kelas. Anak-anak harus diberi kesempatan dan mereka harus didorong untuk tidur dengan menciptakan lingkungan yang kondusif,' kata Spencer dalam sebuah pernyataan.

Dilansir NY Daily News, Selasa (24/9/2013), tidur adalah saat ketika kenangan diproses dan dikonsolidasi. Hal ini dinyatakan Dr Sanjeev Kothare, profesor neurologi di New York University dan direktur NYU Langone's Pediatric Sleep Disorder Center.

Kebutuhan tidur siang memang berkurang seiring tumbuh kembang anak. Anak usia satu tahun biasanya tidur siang dua sampai empat kali, usia dua tahun bisa satu sampai dua kali tidur siang. Sedangkan anak umur tiga tahun atau lebih bisa hanya sekali tidur siang atau tidak sama sekali.

"Meski studi ini relatif kecil, tapi ini menunjukkan bahwa tidur siang bisa meningkatkan memori dan kognisi. Orang harus mulai lebih memperhatikan tidur siang ini, terutama pihak sekolah," kata Kothare.

Ia menambahkan, tak masalah jika anak mendapat tidur siang dengan waktu lebih pendek. "20 sampai 30 menit, yang biasa kita sebut kekuatan tidur siang mungkin cukup untuk mengkonsolidasikan memori anak-anak," pungkasnya.

Penelitian ini diterbitkan di Prosiding National Academy of Sciences